Selasa, 05 Oktober 2010

Hubungan Pembelajaran Matematika dengan Daya Pikir Seseorang

Saat dilahirkan, Tuhan telah menganugerahi 3 hal yang sangat berharga bagi kita sebagai manusia, yaitu waktu, daya pikir, dan kemampuan belajar. Tuhan memberikan kita semua waktu yang sama yaitu 24 jam sehari, 1.440 menit, atau 86.400 detik, tidak lebih dan tidaklah kurang. Tuhan sangatlah adil dalam membagikan segala hal kepada hasil ciptaanNya. Termasuk masalah waktu ini. Tuhan tidak pernah memberikan jumlah waktu yang berbeda kepada umat-Nya.

Tuhan juga memberikan anugerah yang sama kepada semua manusia, yaitu daya pikir. Secara biologis mungkin daya pikir ini didefinisikan sebagai volume otak yang sama di setiap manusia. Tentu Tuhan juga sah-sah saja berkehendak menciptakan manusia dengan kemampuan daya pikir yang terbatas, alias rendah IQ. Bukan karena Tuhan tidak sayang kepadanya, tetapi Tuhan memberikan semua itu sebagai bahan perenungan dan pembelajaran. Namun pada dasarnya semua manusia diberikan hal yang sama, yaitu daya pikir.

Kemampuan belajar juga adalah salah satu anugerah besar yang diberikan oleh Tuhan kepada kita. Tanpa disadari, kita akhirnya mampu berbicara, mampu berjalan, mampu membaca, menulis, dan mampu melakukan apa saja, karena adanya kemampuan belajar. Kita bisa mempelajari sesuatu, dan akhirnya bisa melakukan sesuatu itu.

Di antara ketiga anugerah tadi, kemampuan belajar yang diberikan Tuhan untuk setiap manusia memang sama. Tetapi Tuhan memberikan kebebasan kepada kita, memberikan kesempatan kepada kita untuk bisa terus mengembangkan kemampuan belajar tersebut. Berbeda dengan waktu dan daya pikir yang sudah ditetapkan limitnya oleh Tuhan.

Artikel tersebut merupakan kutipan dari suatu blog. Menurut saya pribadi, daya pikir seseorang bisa dikembangkan dengan meningkatkan kemampuan belajarnya. Jadi, kemampuan belajar dapat dianalogikan sebagai kendaraan untuk mencapai suatu tempat, tempat di sini yaitu daya pikir yang sudah dikembangkan. Memang kapasitas daya pikir sudah ada batasnya. Tapi, manusia yang pintar sekalipun, baru menggunakan beberapa persen dari kapasitas daya pikirnya. Jadi tetap saja, menurut saya daya pikir seseorang bisa dikembangkan. Bukan kapasitas (volumenya), tapi kemampuannya.

Apa hubungannya dengan matematika? Seperti kita ketahui, salah satu tujuan belajar matematika adalah untuk membentuk pola pikir logis, sistematis, kritis, analitis, dan kreatif.

Bentuk konstruksi pemahaman matematika yang saat ini dikembangkan bahkan cenderung menjadi sebuah “gerakan” studi model pembelajaran matematika di antaranya: constructivism, problem solving, problem posing, realistic mathematics education, open-ended approach, communication in mathematics, methacognitif model, cooperative learning, dan reinvention in mathematic.

Saat ini, inovasi pembelajaran matematika sebagai kata kunci untuk mengatasi problematika pembelajaran matematika di sekolah menengah diwujudkan dalam bentuk “gerakan pemerataan” teknik/model/ strategi/pendekatan pembelajaran matematika yang (katanya) mengakar pada kebutuhan dan kebiasaan realistik siswa di lingkungan hidupnya sehari-hari. “Barang baru” ini diberi nama pembelajaran matematika kontekstual (CTL- Contextual Teaching and Learning - diadopsi dari aslinya contextual mathematics).



Dalam kehidupan sehari-hari, tentu sangat luas pemanfaatan dari matematika ini. Mengapa bisa dikatakan sangat luas? Karena dalam peristiwa atau suatu kejadian sehari-hari, ada beberapa yang tanpa disadari sebenarnya terdapat unsur matematika di dalamnya. Bahkan dulu Pythagoras mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia berasal dari bilangan. Jadi, memang matematika itu ada dan bermanfaat dalam kehidupan kita. Mengapa ada orang yang belum merasakan manfaat yang besar dari matematika? Karena mungkin mereka belum mempelajari dengan benar atau belum memahami tujuan belajar matematika itu sendiri, juga belum mengambil manfaatnya. Misal, tentang memprediksi gejala alam. Itu memakai ilmu matematika juga. Tapi sebagian orang mungkin mengatakan, gejala itu hanya kebetulan saja.



Bagaimana cara mendapatkan pola pikir yang dapat diambil manfaatnya dari belajar matematika sehingga kemampuan berpikir seseorang dapat berkembang? Dalam artikel “Developing Mathematical Thinking” pada buku Thinking Mathematically karya Kaye Stacey dkk., disebutkan beberapa alternatifnya, yaitu sikap pertama yang harus dimiliki adalah percaya diri. Jika menemukan suatu masalah dalam kehidupan sehari-hari, yakinkanlah diri sendiri bahwa Aku Bisa.

Questioning:

I can identify questions for investigation, query my assumptions, negotiate meanings of terms.

Challenging:

I can make conjectures, seek justifying or falsifying arguments, check, modify, alter.

Reflecting:

I can be self-critical, expect and assess different approaches, shift, re-negotiate, change direction.



Dari artikel di atas, dapat diambil suatu contoh yaitu kegiatan diskursus minggu lalu (tentang Donna si Sapi Perah). Dalam kegiatan tersebut, muncullah beberapa ide sehingga mendapatkan suatu konjektur. Bila belum mengetahui bagaimana cara menyelesaikan suatu masalah yang besar, mulailah mencoba dengan masalah kecil yang mirip dengan masalah yang besar tadi. Dengan demikian, dapat terlihat pola masalah untuk kemudian dicari cara penyelesaiannya. Bila belum pernah mencoba cara memecahkan masalah seperti itu, rasanya akan terasa sulit. Terbukti bahwa dengan menggunakan cara berpikir matematika, kita akan bisa menyelesaikan problem atau masalah dalam kehidupan sehari-hari. Sekali lagi, saya setuju dengan pendapat beberapa ahli matematika bahwa manfaat belajar matematika itu sangat luas dan bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Sumber : norma1087


0 komentar:

Poskan Komentar

Related Post

Twitter Delicious Facebook Digg Favorites More